ANALISIS AKTIVITAS
PEMEROLEHAN BAHASA MAHASISWA

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Psikolinguistik
Dosen pengampu : Dr. Mohammad Rohmadi, M.Hum.
Nur Hady Eko Setiawan
K 1209050
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011
PENDAHULUAN
A. PENDAHULUAN
Linguistik berkembang dan selalu mengalami perubahan sebagai hakekat bahasa yang selalu menjadi alat komunikasi dan interaksi antar manusia. Manusia adalah anggota dalam masyarakat, dan peran mereka sebagai pengguna bahasa membawa pengaruh penting dalam kajian ilmu linguistik. Penggunaan bahasa pada setiap pengguna bahasa disebut masyarakat bahasa, mereka berkomunikasi antar anggota masyarakat dan menentukan perkembangannya masyarakat itu sendiri, dan peran bahasa sebagai media komunikasi.
Melalui bahasa kita dapat melihat ilmu pengetahuan. Kebudayaan salah satu contoh yang termasuk dalam ilmu pengetahuan yang lahir dari ide/upaya manusia. Maka kebudayaan dapat juga dikatakan manifestasi dan aspirasi dari manusia, yang merupakan milik masyarakat. Dengan sarana bahasa kebudayaan itu bisa dikatakan manifestassi dan aspirasi dari manusia, yang merupakan milik masyarakat. Dengan sarana bahasa kebudayaan itu bisa kita wariskan kepada generasi penerus, sehingga kebudayaan tersebut tidak akan dilupakan oleh masyarakat dan diharapkan tetap dilestarikan. Itulah salah satu fungsi bahasa dalam ilmu pengetahuan.
Perbahasaan dapat dikatakan mudah dan dapat juga dikatakan sulit. Dikatakan mudah, karena pada dasarnya setiap orang bisa berbahasa/berbicara (untuk orang yang normal). Berbahasa dikatakan sulit karena seseorang yang ingin berbahasa/berbicara secara baik dan benar dituntut dapat menguasai kaidah-kaidah yang ada dalam bahasa. Kaidah-kaidah tersebut antara lain; pelafalan, intonasi, diksi, tatabahasa, penulisan.
Ujaran (speech) merupakan suatu bagian yang integral dari keseluruhan personalitas atau kepribadian, mencerminkan lingkungan pembicara, kontak-kontak sosial, dan pendidikannya aspek-aspek lain, seperti cara berpakaian atau mendandani pengantin adalah bersifat internal, tetapi ujaran sudah bersifat inheren, pembawaan, pembicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan, pikitan, gagasan dan perasaan. Sebagai perluasaan dari batasan ini dapat kita katakana bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible) dan yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan otot tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide -ide yang dikombinasikan. Lebih jauh lagi, berbicara merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis, semantic, dan linguistic, sedemikian ekstensif, secara luas sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi control sosial.
Dengan demikian, berbicara itu lebih baik daripada hanya sekedar pengucapan bunyi-bunyi atau kata-kata. Berbicara adalah suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan pendengar atau penyimak. Berbicara merupakan instrumen yang mengungkapkan kepada penyimak. Berbicara merupakan instrument yang mengungkapkan kepada penyimak hampir secara langsung; apakah pembicara memahami atau tidak baiknya bahan pembicaraannya maupun penyimaknya; apakah dia bersikap tenang serta dapat menyesuaikan diri atau tidak? Pada saat dia mengkomunikasikan gagasan-gagasan dan apakah dia waspada serta antusias atau tidak? (Mulgrave, 1954 : 3-4).
Jadi, untuk mengetahui secara jelas bagaimana komunikasi seseorang dengan orang lain perlu adanya tindakan peneletian lalu hasil penelitian yang berupa data percakapan orang dianalisis sesuai kajian semantik, sintaksis, dan sosiolinguistik. Maka dari itu, makalah ini memapaparkan analisis percakapan mahasiswa yang sedang berada dalam kos-kosan.
B. TUJUAN
Tujuan utama tulisan ini adalah untuk mengetahui seberapa besar tingkat kesalahan penggunaan bahasa. Kegiatan tersebut dianalisis dengan kajian semantik, sintaksis, serta sosiolinguistik. Dengan demikian, diharapkan hasil penelitian ini mampu menjadi bahan rujukan dalam penelitian lainnya, dan mampu menjadi penambahan keilmuan dibidang linguistik, terutama dalam bidang psikolingustik.
PEMBAHASAN
A. DATA PERCAKAPAN MAHASISWA
Wanita 1 : Rin, kemarin kamu pulangnya, gimana?
Wanita 2 : Naik bis, kan dari solo jam 12, tapi terlantar di terminal gara-gara busnya ngetem di terminal 2 jam.
Wanita 1 : Sampai rumahnya jam berapakah heu, lama no, Rin?
Wanita 2 : harus e jam 5 kuranglah nyampek rumah, tapi sampai magrib baru nyampek rumah.
Wanita 1 : Dijemput apa piye?
Wanita 2 : Dijemput bapakku, tapi gara-gara bis terakhir, makanya nunggu berangkat e sampai jam 2. Dua jam nunggu itu.
Wanita 1 : kamu gak mau minta dianterin aku, heu?
Wanita 2 : kan aku gak ngerti.
Wanita 1 : yo weslah. Lha kemarin kamu berangkat sini dari sana jam berapa?
Wanita 2 : jam setengah 12 naik bis, tapi nyampek Solo jam 4 kurang, tapi mau ke kos malah keujanan, berteduh sampai sampai sejam gak reda-reda, terus naik ojek.
Wanita 1 : kamu dari depan sampai sini naik ojek?
Wanita 2 : iya, bayar 5 ribu.
Wanita 1 : tenane,hahahaha?
Wanita 2 : tenan.
Wanita 1 : Serius Rin, tapi keujanan gak?
Wanita 2 : tetap wae kanyepan.
Wanita 1 : lha ujan gak og?
Wanita 2 : hujan deres sampai malem gak reda-reda.
B. ANALISIS DIALOG MAHASISWA
Dialog pertama
Wanita 1 : Rin, kemarin kamu pulangnya, gimana?
Wanita 2 : Naik bis, kan dari solo jam 12, tapi terlantar di terminal gara-gara busnya ngetem di terminal 2 jam.
Analisis Dialog Pertama
· Kajian Semantik
Wanita 1 : Pada dialog pertama, kalimat tanya yang digunakan oleh wanita kesatu cukup dimengerti oleh orang lain khususnya oleh wanita kedua. Maksud dari kalimat tanya wanita kesatu adalah menanyakan cara, proses, atau transportasi yang digunakan wanita kedua melakukan perjalanan pulang ke rumah.
Wanita 2 : Pemaknaan kalimat untuk dialog wanita kedua masih membingungkan. Unsur campur kode bahasa mempengaruhi makna yang akan disampaikan. Hal yang dikatakan membingungkan adalah subjek yang “terlantar” dari dialog di atas. Makna ganda dari dialog di atas yakni wanita 2 yang terlantar, atau penumpang lain juga terlantar.
· Kajian Sintaksis
Wanita 1 : Penggunaan kalimat tanya pada wanita satu masih ditemukan banyak kekeliruan. Peletakan kata tanya masih terpacu pada bahasa jawa, yakni “Rin, kemarin kamu pulangnya, piye?”. Itulah kesalahan yang masih ditemukan. Kalimat tanya yang tepat adalah “Bagaimana pulangmu kemarin, Rin?”
Wanita 2 : masih ditemukan kesalahan pada dialog wanita 2. Susunan kalimat yang kurag tepat, dapat membingungkan pendengar atau pembaca. Penggunaan kata yang seharusnya tidak perlu, ternyata masih tetap digunakan. Misalnya pada penggunaan kata kan. Kata tersebut tidak memiliki makna, hanya mempertegas. Untuk itu, kata kan lebih baik di hilangkan saja. Selain itu, penggunaan kata jam yang tidak tepat, menimbulkan kesalahan berbahasa. Kata jam sebaiknya digunakan untuk jumlah waktu yang diperlukan. Misalnya, saya belajar selama 4 jam sehari. Untuk penggunaan kata jam 12 yang benar adalah pukul 12.00 WIB.
· Kajian Sosiolinguistik
Campur kode : penggunaan kata dalam percakapan masih ditemukan campur kode antara bahasa jawa dan bahasa indonesia. Yakni dalam penggalan kata ngetem di terminal. Ngetem adalah bahasa jawa sedangkan di terminal bahasa Indonesia.
Dialog kedua
Wanita 1 : Sampai rumahnya jam berapakah heu? Lama no, Rin?
Wanita 2 : harus e jam 5 kuranglah nyampek rumah, tapi sampai magrib baru nyampek rumah.
Analisis dialog kedua
· Kajian Semantik
Wanita 1 : kata “rumahnya”. Kata tersebut memiliki makna lain bila digunakan dalam bahasa Indonesia. Rumahnya berarti rumah milik orang ketiga. Padahal, maksud wanita 1 menunjuk pada rumah milik wanita 2. Oleh karena itu, yang benar menggunakan kata rumahmu atau rumah saja karena sudah menunjuk pada rumah wanita 2.
Kata lama no, Rin? masih ditemukan makna yang membingungkan jika dikaji menggunakan bahasa indonesia. Bila yang dimaksud mempertegas pertanyaan, berarti cukup menggunakan kata lama, Rin? Sedangkan jika untuk menunjukan rasa sok tahu/ sudah bisa mempekirakan berarti menggunakan kata berarti lama, Rin?
Wanita 2 : terdapat pemakaian bahasa tidak baku, yakni bahasa gaul pada kata “nyampek”yang berarti “sampai”. Selain itu, kata “harus e” yang dimaksud adalah “seharusnya.” Kemuadian kesalahan yang sama penggunaan kata “jam” yang seharusnya “pukul.” Maksud penggunaan kata magrib, dalam konteks tersebut adalah waktu magrib sekitar pukul 18.00 WIB.
· Kajian Sintaksis
Wanita 1 : struktur kalimat yang digunakan oleh wanita 1 pada dialog ini masih mengandung unsur bahasa jawa. Yakni penempatan kata tanya bahasa yang masih dibelakang, sehingga terlihat masih menggunakan pola kalimat bahasa jawa. Struktur yang baik untuk bahasa Indonesia adalah pukul berapa tiba dirumahmu? Lama, Rin?
Wanita 2 : sama halnya dengan wanita 1, struktur kalimat wanita 2 masih menggunakan atau terpengaruh dengan struktur bahasa jawa. Sehingga kalimat yang benar adalah seharusya pukul 17.00 (5 sore) kuranglah sudah sampai rumah, tapi sampai waktu magrib baru sampai rumah.
· Kajian Soiolinguistik
Campur kode : kedua wanita tersebut masih menggunakan dua bahasa secara bersamaan, yakni bahasa jawa dan bahasa Indonesia. Kalimat yang masih menggunakan campur kode yakni harus e. Maksudnya kata harus dari bahasa Indonesia dilanjutkan e yang berasal dari bahasa jawa.
Bahasa gaul : penggunaan bahasa gaul pada dialog kedua, yakni kata nyampek.
Dialog Ketiga
Wanita 1 : Dijemput apa piye?
Wanita 2 : Dijemput bapakku, tapi gara-gara bis terakhir, makanya nunggu berangkat e sampai jam 2. Dua jam nunggu itu.
Analisis dialog ketiga
· Kajian Semantik
Wanita 1 : makna yang disampaikan pada kalimat tanya wanita 1 sudah dapat dimengerti oleh wanita 2. Orang lain pun juga sudah dapat mengerti maksud kalimat tanya tersebut. Yakni wanita 2 saat pulang dijemput atau tidak?
Wainta 2 : makna kalimat untuk wanita kedua masih ambigu. Keambiguannya terdapat pada kalimat “Dua jam nunggu itu.” Yang dimaksud nunggu itu bapak wanita 2 atau wanita 2 itu sendiri masih belum jelas. Kemudian kata makanya yang bercampur dengan bahasa jawa makane, perlu diperbaiki dengan cukup menggunakan kata maka saja.
· Kajian Sintaksis
Wanita 1 : struktur kalimat wanita 1 masih berpola bahasa jawa. Struktur bahasa indonesia yang baik cukup dengan bagaimana pulangmu? dijemput atau tidak?
Wanita 2 : Dijemput bapakku, tapi gara-gara bis terakhir, makanya nunggu berangkat e sampai jam 2. Dua jam nunggu itu. Masih sama, yakni terdapat pola kalimat bahasa jawa. Pola kalimat yang benar sesuai kaidah bahasa Indonesia adalah Dijemput bapakku, tapi karena bis terakhir, maka nunggu berngkat sampai pukul 14.00 (2 siang). Selama dua jam (aku/ bapakku) nunggu.
· Kajian Sosiolinguistik
Campur kode : kedua wanita tersebut juga masih menggunakan dua bahasa, yakni bahasa jawa dan bahasa indonesia. Terdapat pada kata “dijemput apa piye” dan “nunggu berangkat e.”
Dialog keempat
Wanita 1 : kamu gak mau minta dianterin aku, heu?
Wanita 2 : kan aku gak ngerti.
Analisis dialog keempat
· Kajian Semantik
Wanita 1 : makna yang disampaikan sudah dapat dimengerti dan tidak terdapat makna yang ambigu maupun sulit dipahami. Kata heu hanya sebagai penambahan saja tidak memiliki makna apapun.
Wanita 2 : penggunaan kata kan yang sebenarnya memiliki makna yang membuat, sehingga lebih baik dengan menggunakan kata karena atau sebab. Jadi, terbentuk kalimat “karena aku gak ngerti”.
· Kajian Sintaksis
Wanita 1 : struktur kalimat yang digunakan sudah tepat.
Wanita 2 : struktur kalimat yang digunakan juga sudah tepat.
Dialog kelima
Wanita 1 : yo weslah. Lha kemarin kamu berangkat sini dari sana jam berapa?
Wanita 2 : jam setengah 12 naik bis, tapi nyampek Solo jam 4 kurang, tapi mau ke kos malah keujanan, berteduh sampai-sampai sejam gak reda-reda, terus naik ojek.
Analisis dialog kelima
· Kajian Semantik
Wanita 1 : yo weslah, merupakan kata bahasa jawa yang berarti ya sudahlah. Pengguna kata berangkat sini masih belum tepat. Seharusnya ada imbuhan ke- sebagai kata depan. Jadi berangkat ke sini itulah yang benar.
Wanita 2 : kata nyampek yang masih belum baku dapat diganti dengan kata sampai. Kata yang lainnya sudah dapat dimengerti. Selain itu, penggunaan kata sampai-sampai lebih baik diganti dengan selama. Karena makna yang dimaksud dari kata tersebut adalah waktu yang digunakan.
· Kajian Sintaksis
Wanita 1 : wanita 1 kurang tepat dalam penyusunan struktur kalimatnya. Pola kalimat tanya yang benar adalah “Ya sudahlah. Kemarin, pukul berapa berangkat ke sini dari sana?
Wanita 2 : pola kalimat wanita 2 masih belum tertata rapi. Pola kalimat yang benar adalah Pukul 11.30 naik bus, tapi sampai di Solo pukul 16.00 (4 sore) kurang. Aku mau pulang ke kos kehujanan sehingga berteduh selama sejam hujan tidak reda-reda, lalu aku naik ojek.
PENUTUP
Simpulan
Komunikasi yang dilakukan setiap hari tanpa disadari masih terdapat kesalahan dalam berbahasa. Hal ini ditemukan pada kedua wanita yang telah dibahasa pada pembahasan diatas. Masih terdapat penggunaan bahasa yang memiliki makna ambigu dan rancu untuk dimengerti oleh pendengar atau pembaca lain.
Kegiatan analisis yang telah dilakukan sesuai dengan kajian semantik, sintaksis, serta sosiolinguistik, kedua wanita yang melakukan percakapan atau dialog ditemukan banyak kesalahan. Kesalahan itu meliputi diksi yang digunakan, pola kalimat serta bahasa yang digunakan masih campuran. Penggunaan diksi sampai-sampai dialog kelima dibenahi dengan menggunakan kata selama. Kemudian pola kalimat yang digunakan masih terpengaruh dengan pola kalimat bahasa jawa. Ditambah lagi, bahasa yang digunakan masih bercampur dengan bahasa dareah. Bahasa yang sering digunakan mereka adalah bahasa jawa dan bahasa Indonesia.
Penggunaan bahasa yang dilakukan oleh kedua mahasiswa wanita tersebut, terdapat kesalahan pada pemilihan diksi, pola kalimat serta penggunaan bahasa. Bertolak pada dialog kedua wanita tersebut, perlu adaya pembenhan dalam penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar sesuai kaidah kebahasaan. Dari sini peran guru dan tenaga pengajar bahasa indonesia juga harus ekstra memberikan pembenaran penggunaan bahasa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Oka, IGN dan Suparno. 1994. Linguistik Umum. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Purwadi. 2000. Analisis Kesalahan Berbahasa. Surakarta : Universitas Sebelas Maret.
Sugon, Dendy. 2007. Buku Praktis Bahasa Indonesia Jilid 1. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional
Firdawati. 2011. http://yusrizalfirzal.wordpress.com/2011/03/14/sintaksis-bahasa-indonesia/. diunduh pada hari Senin, 2 Januari 2011 pukul 14. 35 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar